Politik Saling Gilas Tak Menguntungkan
Oleh : MARDEDI, SE
Semestinya, hal-hal penggembosan atau cara-cara menjatuhkan kredibilitas masing-masing calon sudah harus ditinggalkan. Apalagi sekarang bangsa ini sudah berada dalam era reformasi, baik perbaikan hal pelayanan pemerintah terhadap rakyat, maupun dalam dunia perpolitikan, terutama pendidikan politik kepada masyarakat.
Telaah dari hasil penelusuran dan wawancara dengan masyarakat di beberapa daerah yang dijadikan target lokasi kampanye pasang calon, terungkap bila hampir semua masyarakat tak sepakat dengan cara saling menjatuhkan, atau penggembosan kredibilitas calon lain yang menjadi pesaingnya.
Memang masih ada yang setuju dengan cara itu, karena menurut mereka itulah salah satu dari bentuk transparansi. Tapi hanya beberapa masayrakat saja, terutama kelompok masyarakat yang punya kepentingan dengan kasus atau masalah yang tengah dihadapi atau akan dihadapi salah satu calon.
Justru paling diinginkan masyarakat adalah bagaimana calon meyakinkan masyarakat sebagai pemilih dengan program yang akan diterapkan bila nanti terpilih, pernyataan komitmen atau kontrak politik yang diajukan warga desa.
Cara itu dianggap dimana masyarakan benar-benar ditempatkan pada posisi penentu bukan sekadar jadi obyek memuluskan kepentingan.
Dalam hal program dan kontrak politik tersebut, diminta harus langsung dibuktikan pula dengan tindakan melakukan perbaikan fasilitas, sarana dan prasarana disemua daerah yang membutuhkan perbaikan atau kemajuan pembangunan.
Toh, semua kandidat adalah orang yang sedang memangku jabatan didaerahnya. Khusus untuk bupati yang mencalon, hemat masyarakt, tidaklah sulit menggenjot perbaikan didaerah masing-masing. Malah bila mampu, memperbaiki daerah lain.
Demikian pasangan incumbent, apalagi masa tugas masih sampai bulan Agustus mendatang. “Buktikan dengan masyrakat, bila jabatan yang hendak mereka rebut benar untuk niat mensejahterakan dan memajukan daerah ini,” sindir masyarakt desa pedalaman, saat diminta keterangannya.
Misalpun ada pelanggaran hukum dilakukan salah satu calon dan tetap harus diangkat ke permukaan, masyarakat malah lebih senang mendengarnya dari mulut aparat penegak hukum. Juga rakyat sangat setuju, bila masing-masing calon saling menutupi kesalahan, selama proses pesta demokrasi berjalan, agar kondisi kondusif tetap terpelihara.
“Padahal hampir semua calon mengaku bila calon Gubernur Kalteng ini putra terbaik Kalteng. Bila demikian, kenapa harus saling menjatuhkan. Calon yang suka menjelekan pesaingnya malah ditertawakan masyarakat,” beberapa tokoh Desa Benangin, Kecamatan Teweh Timur, Barito Utara, memberikan pendapatnya.
Bila demikian yang terjadi, dapat ditebak hasilnya. Bukan malah mendapat dukungan, sebaliknya justru dibenci oleh masyarakat. Malah bisa-bisa juga dibenci oleh orang jujur diratusan desa pedalaman Kalteng yang tadinya menjadi pendukung setia salah satu kandidat pasangan calon.
“Siapa yang paling senang atau paling banyak menghujat atau menyudutkan pesaingnya, bisa-bisa akan menjadi paling sedikit perolehan suaranya. Namun pada malam menjelang pelaksanaan Pilkada bisa saja berubah. Sebab biasanya ada pembagian uang kepada pemilih di desa,” analisa beberapa warga Lahei, Kecamatan Lahei, saat diminta tanggapannya terhadap jalannya proses Pilkada Kalteng tahun ini.
Dalam topik yang sama, warga Lampeong, Kecamatan Gunung Purei, sedikit berpandangan berbeda dengan warga di kecamatan tetangganya. Mereka mengaku sudah mempunya pilihan, sehingga proses kampanye atau pembagian uang (bila ada), diyakini tak signifikan mempengaruhi perolehan suara empat pasang calon di kecamatan paling tertinggal di Barut tersebut.
Dalam hal pesta demokrasi, masyarakat disana, khususnya warga Lampoeng sangat menyadari, bila daerah mereka sangat tak menguntungkan bila di pandang dari segi politik. Hal ini dikarenakan jumlah pemilih didaerah sana, paling sedikit hanya sekitar 5000 pemilih.
Menyadari itu, sehingga mereka punya komitmet kuat bila uang tak segalanya dalam hal memperoleh simpatik masyarakat disana. “Kami sadar tempat kami tak strategis dalam hal perpolitikan. Karenanya, hal perlu kami andalkan adalah teknik mendukung. Ini mulai kami terapkan setelah pengalaman buruk pada Pilkada Barut April 2008 lalu,” kata Budy Alamsyah, kader Golkar Desa Lampeong.
Masyarakat wajar benci terhadap teknik tak mendidik yang dilakukan salah satu calon maupun sejumlah anggota tim sukses calon. Sebab mereka hanya berkewajiban memberikan hak pilihnya. Mereka yakin, tetap saja pembangunan didaerahnya sedikit diabaikan, mengingat derahnya hanya mengandalkan kesuburan tanah dan tak ada potensi tambang seperti daerah lainnya.
Hasil hutan yang sebelumnya sempat menjadi andalan, sekarang sudah hampir punah oleh perusahaan HPH, terutama didaerah Desa Muara Mea hingga kawasan hutan disekitar Gunung Lumut. Hanya diandalkan saat ini adalah system berdagang. Dimana barang-barang diperoleh dari provinsi tetangga (Kalsel) yang cara barter dengan hasil bumi seperti, rotan, dammar mata kucing dan hasil kerajinan ayaman rotan.
Pandangan masyarakat sebagai obyek, tentu beda dengan tanggapan parang tim sukses, yang memang mendapat bayaran dari jasanya mempromosikan kandidatnya. Karenanya, tidak memperbaiki keadaan bila kandidat terlalu mempercayai laporan tim sukses.
Cobalah sekali-kali lakukan wawancara tersembunyi dengan salah satu masyarakat. Sejauh ini hanya beberapa calon berpengalaman atau tim sukses berpengalaman yang melakukan dialog langsung dengan beberapa pemilih.
Tulisan ini hanya sekadar pembelajaran bagi kita semua. Agar cara tak sehat dalam proses mencari dukungan dibuang jauh-jauh dari pesta demoraki di Kalteng. Masa masyarakat yang tak punya ijazah ilmu politik saja paham cara baik dalam berpoliti.
Haruskah masyarakat membuka kursus bagi politikus daerah ini agar tahu cara berpolitik yang sehat? Bila sampai ini terjadi, betul-betul sangat memprihatinkan.............(*)
Penulis adalah Pemimpin Umum Koran Online SUARAPUBLIC
Pendidikan:
-Sarjana D-III Manajemen Informatika dan Komputer.
-Sarjana Stara-1 (S1) Sistem Manajemen Perusahaan.
Pengalaman:
-Pernah menjadi Karyawan PT Grafika Wangi Kalimantan (GWK) atau Reporter Daerah Harian Banjarmasin Post (Kelompok KOMPAS Group) sejak 2002-2008.
-Sekarang, selain aktif mengelola SUARAPUBLIC, penulis juga aktif sebagai Wartawan Freelance Tabloid POTRET KALTENG dan ANTV distributor Kalteng.
Opini lainnya :
-----------------
Berita lainnya :
-----------------
--------------------------------------------------------------------------------------------