TERBARU

Situs ini tak lagi apdate. Kunjungi situs kami lainnya
SUARAPUBLIC.COM

|

Beras Habis, Koban Banjir Kecamatan Gunung Purei Terancam Kelaparan

(MuaraTeweh): Meski banjir bandang akibat luapan sungai Teweh (anak sungai Barito) di Kecamatan Gunung Purei, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah tak berlangsung lama, namun dampaknya bagi masyarakat setempat sangatlah besar. Sejumlah Kepala Keluarga (KK) korban banjir bahkan terancam kelaparan.

Kenapa sampai separah itu kondisi para korban banjir di kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Barat (Kaltim) itu?

Menurut Karnadi, seorang penelpon yang mengaku warga Lampeong, mengatakan kini hampir semua beras milik korban banjir, mendadak rusak bahkan sudah mengluarkan bau busuk akibat terlalu lama terendam air kotor campur lumpur.

Beras tersebut sengaja disimpan ditempat yang agak tersembunyi karena memang dijadikan stok kebutuhan selama menunggu tiba waktunya musim tanam bulan berikutnya.

Kondisi mereka diperparah karena puluhan ton benih padi yang disimpan dalam puluhan karung guni juga rusak akibat terendam air. Padi itu hasil panen musim tanam bulan lalu yang sengaja disimpan dalam bentuk benih agar mampu bertahan (awet), hingga musim tanam bulan berikutnya tiba.

Padi itu stok untuk mengatisipasi beras yang ada habis sebelum waktunya. Selain itu, padi itu juga dijadikan benih yang rencananya akan ditanam pada musim tanam bulan mendatang. Sebagiannya kadang-kadang dijual. Sedangkan uangnya digunakan untuk membeli ketubutuhan lainnya keluarga.

Para korban banjir yang kini tarap hidupnya masih tergolong miskin atau masyarakat tidak mampu, baru mengetahui beras dan padi mereka rusak juga mengeluarkan bau busuk, tepat Jumat (16/4/2010) pagi, disela membersihkan lumpur yang masih merekat dilantai rumah.

"Saat genangan air tinggal 30 centimeter dari lantai tempat penyimpanan beras, semuanya karung termasuk benih padi sudah kita evakuasi ke atas panggung darurat. Kita panik, sehinga tak menyadari air melampaui lantai panggung itu.

Mungkin ada satu malam terendam, kondisinya kian rusak karena tak bisa langsung kita jemur," cerita Karnadi.

Menurutnya, bila bantuan beras tak segera disalurkan buat para korban banjir di kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Barat (Kaltim) itu, akan banyak yang kelaparan karena bantuan bahan pangan sebelumnya hanya berupa Mie Instan, ikan kering, selimut dan terpal.

Desa terparah diterjang banjir kemaren di antaranya Desa Lampeong II dan Desa Lampeong II Seberang, Linon Besi dan Desa Tanjung Harapan. Banjir kali ini diakui masyarakat menjadi yang terparah, terutama kedalaman air.

Biasanya warga cukup mengungsi di atas pangggung darurat yang dibuat dalam rumah atau di blakon atap rumah. Tapi banjir kemaren, kedalamannya hampir saya menenggelamkan atap rumah warga sehingga hampir semua korban banjir mengungsi di atas atap rumah mereka.

Bagi yang merasa rumahnya cukup aman ditinggal, termasuk ibu rumah tangga dan anak-anak, memilih mengungsi di gedung sekolah dan gedung TK. Tak hanya parah terkena terjangan banjir, Desa Tanjung Harapan juga menjadi daerah paling sulit dijangkau karena letaknya yang teramat jauh dari ibukota kecamatan.

Desa Tanjung harapan saat ini hanya berpenduduk tak lebih dari 15 Kepala Keluarga (KK) itu persis berada ditengah-tengah perkampungan dipinggir sungai Teweh yang jaraknya lebih dari lima jam perjalanan jalur sungai, perisis dekat batas wilayah Kecamatan Gunung Purei dan Teweh Timur).

Jauhnya jarak tempuh baik ke hilir maupun mudik kehulu mengakibatkan Desa Tanjung Harapan menjadi daerah rawan pangan di Kecamatan Gunung Purei. Jalan darat masih belum terbuka menuju desa itu, sedangkan lewat sungai sulit dijangkau pada saat debit air tinggi maupun saat kemarau.

Sebenarnya desa itu, termasuk juga Desa Linon Besin I dan II sangat perlu dilakukan relokasi tempat ke daerah yang mudah dijangkau, paling tidak akses lewat daratnya mudah dibangun.

Hanya Linon Besi masih mendingan karena penduduknya yang masih bertahan masih cukup banyak yakni mencapai ratusan KK. Berbeda jauh dengan Tanjung Harapan yang penduduknya saat ini tersisa paling banyak 15 KK

Namun diakui Kades, faktor adat dan tanah leluhur kemungkinan yang menyulitkan bila rencana relokasi benar-benar direalisasikan Pemkab Barut. "Pernah didengungkan tahun lalu, tapi warga menolak," ucap Anto, Kades Tanjung Harapan, sembari menerangkan bila berkurangnya penduduk di desa itu lantaran banyak yang hijrah ke desa lain, baik di daerah Teweh Timur maupun Gunung Purei.

Kembali ke masalah dampak banjir Lampeong, Budi Alamsyah, salah satu korban banjir Desa Lampeong membenarkan beberapa korban banjir terpaksa mengandalkan makanan Mie untuk makan sehari-hari lantaran beras mereka tak bisa dimasak karena terendam air campur lumpur. "Saya yakin di antara kami pasti ada yang kelaparan bila bantuan beras tak segera disalurkan," ucapnya via ponsel, Jumat malam.

"Kami tak bisa menyelamatkan beras dan padi karena berat. Selain itu tempatnya juga agak tersembuyi maklum stok, sehingga tak bisa leluasa dan cepat di evakuasi. Tapi penyebabnya bukan kelalaian. Melainkan kami tak menduga kedalaman air setinggi ini. Ada beberapa karung sempat diangkat ke atas panggung darurat tapi juga basah karena kedalaman air melampauinya," timpalnya.

Diakui Budi, sejak Rabu bantuan bahan makanan dari Pemkab Barut sudah mulai disalurkan pihak kecamatan. Tapi tak ada beras di antara bantuan itu, sehingga untuk menambah asupan tenaga untuk mengangkut barang-barang pasca banjir surut, mereka hanya merebus mie.

Menurutnya, warga korban banjir di daerah mereka saat ini juga sangat membutuhkan pakaian, baik baju maupun celana panjang dan pendek. Ini karena, saat arus deras mulai masuk rumah penduduk, pakaian yang dijemur lupa diangkat sehingga turut hanyut dibawa arus.

Apakah tak ada pedagang di Lampeong sehingga beras menjadi barang langka? "Tidak, justru ada banyak pedagang sembilan bahan pokok disini. Tapi, uang untuk membeli beras yang tak ada. Selama banjir kita juga libur bekerja. Biasanya meski tak bekerja, tapi masih ada Padi yang bisa dijual," jelas Budi.

Sedangkan Didi, warga Desa Lampeong II Seberang, mengaku sangat berharap bantuan beras dalam waktu segera disalurkan. Ini mengingat beras dan padi, khususnya miliknya, telah lenyap ditelan derasnya air karena hanyut dibawa arus. Didi adalah korban banjir yang kini terpaksa mengungsi ditempat kerabatnya karena rumahnya hanyut dibawa arus pada hari kedua banjir bandang datang.

"Rumah saya bangun sendiri. Tapi arus memang deras padahal pondasinya sudah kuat. Tapi yang paling kami perlukan saat ini adalah beras. Kemaren, kami masih belum mengetahui kondisi beras dan padi yang basah dalam karung, sehingga waktu petugas datang tak turut kami laporkan," ucap lirih Didi.

Dibenarkan Didi, bantuan beberapa kota dos Mie Instan, puluhan selimut dan terpal sudah mereka terima. "Kami juga berharap bantuan pakaian. Saat ini banyak yang pakaiannya tersisa hanya yang melekat dibadan, karena ikut hilang dibawa arus," timpalnya.

Sebagaimana diketahui, banjir bandang di Kecamatan Gunung Purei berlangsung selama dua hari yakni sejak Rabu (14/4/2010) hingga Kamis (15/4/2010). Banjir itu termasuk parah karena genangan akibat meluapnya air sungai Teweh (anak sungai Barito) itu hampir saja menenggelamkan atap puluhan rumah penduduk yang berada didataran rendah.

Sejumlah Muspida sempat turun ke lokasi untuk memantau langsung kondisi masyarakat disana yang menjadi korban banjir. Selain itu, mereka juga mengawasi penyaluran bantuan agar benar-benar tepat sasaran.

Menurut sumber, keberangkatan sejumlah muspida ke Desa Lampeong pada hari kedua terjadi banjir disana, khususnya pejabat tinggi Pemkab Barut ke lokasi banjir atas perintah langsung Bupati Barut H Achamd Yuliasnyah yang saat ini sedang dinas luar.

Sejauh ini masih belum diperoleh laporan baik dari petugas medis maupun masyarakat korban banjir, munculnya penyakit pasca banjir.


Berita lainnya :
------------------------------------------------------------------------------------


Fokus Kalteng :
------------------------------------------------------------------------------------

















------------------------------------------------------------------------------------

Editor by Mardedi on 4/16/2010 10:38:00 PM. Melalui feed . Anda dapat mengikuti respon untuk entri ini melalui RSS 2.0. Jangan ragu untuk meninggalkan tanggapan.

0 komentar for "Beras Habis, Koban Banjir Kecamatan Gunung Purei Terancam Kelaparan"

Berikan Tanggapan

Index Arsip

Lihat Komentar

Posting Terbaru