Banjir Surut, Bau Menyengat Muncul
(MUARATEWEH): Genangan air di sejumlah jalan umum dan beberapa rumah penduduk di lokasi dataran rendah Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, sejak Minggu (11/4/2010), perlahan menghilang. Banjir ini akibat meluapnya air sungai bagian hulu DAS Barito dan beberapa anak sungai setempat."Mulai pagi tadi air menyurut. Sekarang genangan air hanya ada dipekarangan, tapi juga mulai lenyap. Mudahan kondisi air Barito kembali normal seperti biasanya," ucap Rajiudin, warga Jalan Paraguai, Minggu sore.
Komplek penduduk di jalan itu merupakan daerah terendah di kota Muara Teweh. Bila didaerah lain baru terkena rembesan air, di daerah itu genangan air sudah hingga ke lantai rumah penduduk setempat.
Kawasan lain tak kalah rendahnya di antaranya Jalan Merak, Jalan Mawar, Jalan Imam Bonjol dan Jalan Dahlia. Jalan umum yang sebelumnya mulai digenangi air namun kini sudah mengering di antaranya jalan Panglima Batur, komplek Perwira.
Meski kedalaman air pada musim banjir kali ini tak seberapa dibanding tahun sebelumnya, namun tetap saja menyisakan lumpur dan sampah yang baunya begitu menyengat hidung.
Sisa air banjir yang perlahan menyurut di pekarangan rumah penduduk dimanfaatkan oleh mereka untuk membersihkan lumpur dan sampah itu. Dibeberapa tempat, genangan air dimanfaatkan warga untuk membersihkan kendaraan, dan tempat bermain anak-anak.
"Kami khawatir pasca banjir ini menimbulkan penyakit berbahaya. Warga yang terkena penyakit gatal-gatal sudah ada sejak air mulai menggenangi lantai beberapa hari lalu," ucap Pardi, warga lainnya Gang Paraguai.
Sebelumnya Bupati Barito Utara, Achmad Yuliansyah meminta warganya untuk mewaspadai dampak banjir yang hampir terjadi setiap tahun di saat musim hujan.
"Meski banjir saat mulai surut, warga tetap diminta waspada karena tingkat curah hujan masih tinggi," katanya.
Menurut Yuliansyah, banjir musiman ini biasa terjadi akibat luapan pedalaman Sungai Barito, sehingga warga yang tinggal di pinggiran sungai pemukimannya pasti terendam.
Dampak banjir itu, kata dia, selain merendam rumah penduduk juga lahan pertanian baik padi maupun hortikultura, apalagi musim tanam tahun ini dikhawatirkan dengan ancaman banjir tersebut.
"Meski banjir di daerah ini dianggap sudah biasa bagi warga masyarakat, namun dampaknya itu dikhawatirkan selain mengganggu pertanian juga kesehatan misalnya muntaber dan penyakit kulit," katanya.
Yuliansyah menjelaskan, dalam mengantisipasi dampak banjir maka pihaknya menyiapkan petugas kesehatan, dan tim Satkorlak Penanggulangan Bencana (PB) yang biasa diturunkan ketika banjir seperti tahun-tahun lalu melanda kabupaten pedalaman Sungai Barito ini.
Banjir di daerah ini, kata dia, berbeda dengan tempat lain misalnya di Pulau Jawa, karena air Sungai Barito naik secara perlahan, sehingga warga selalu siaga untuk mengevakuasi barang ke tempat yang aman.
"Kami berharap banjir ini tidak ada warga masyarakat mengalami kerugian baik materil maupun jiwa," katanya.
Sementara itu, banjir di wilayah Kabupaten Murung Raya yang berada di paling utara Sungai Barito di informasikan sejumlah warga disana juga mulai surut. Berita FOKUS KALTENG lainnya....
