Memaksa Sistem UN, Sama Dengan Menyuruh Siswa Bunur Diri
(SUARAPUBLIC) - Sistem Ujian Nasional (UN) sepertinya memang harus dihapus pada kurikulum pendidikan ditahun mendatang. Karena sistem yang katanya untuk mendongrak mutu pendidikan tanah air itu justru menimbulkan petaka baru bagi bangsa ini.Dimana-mana terjadi pengrusakan gedung sekolah oleh siswa gagal UN yang jelas memerlukan dana lagi untuk membangun atau memperbaikinya. Bahkan adapula yang nekad mengakhiri hidupnya lantaran gagal atau tidak lulus UN.
Ironisnya, mereka yang menjadi korban tersebut justru orang berprestasi di sekolahnya. Bahkan ada di antaranya yang selalu menyabet rengking pertama tiap kenaikan kelas.
Fakta orang berprestasi ikut menjadi korban sistem UN tersebut salah satunya ditemukan di SMU Negeri-1 Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Disekolah favorit tersebut sendiri tercatat sebanyak 115 siswa gagal UN tahun ini, untungnya hanya diwarnai isak tangis tak sampai ada yang nekad bunur diri.
"Saya memang kurang menguasai bahasa asing sehingga nilai hanya 4. Tapi yang lainnya tak ada yang dibawah angka 7. Karena sistem UN saya pun dinyatakan tidak lulus. Ini sangat tidak adil bagi kami," ucap seorang siswa SMU N-1 Muara Teweh, dengan pandangan mata nanar kedepan.
Hal yang sama dialami Ariel Ramadhan, seorang murid jurusan bahasa SMU Negeri-1 Muara Teweh. Dia dinyatakan tidak lulus karena matapelajaran Matematika dapat nilai (3,0). Padahal nilai Bahasa Indonesianya (7,5), Antro (6,5), Sastra (7,2), Bahasa Jepang (8,0), Bahasa Inggris (6,5).
Bila dihitung rata-ratakan nilai siswa itu termasuk tinggi, apalagi Bahasa Jepang yang termasuk sulit dipahami namun mampu diraihnya dengan anggka (8,0). Nasibnya, termasuk siswa lainnya, harus menjadi tidak mujur hanya karena nilai mata pelajaran Matematika yang mungkin salah satu pelajaran yang tak disenangi murid dapat anggka (4,0).
"Pokoknya tak ada alasan lagi, sistem UN harus benar-benar dihapus. Bila ingin peningkatan mutu, bisa dengan cara pengetatan pengawasan terhadap guru pengajar. Saya yakin kegagalan ini tak mutlak faktor murid yang malas belajar tapi guru sekarang memang banyak yang malas mengajar, sangat jauh rasa tanggungjawabnya dibanding guru hasil rekrutmen 20 tahun silam," ucap salah satu orang tua murid, yang turut menitikan air mata melihat anaknya menjerit histeris.
Berita lainya :
------------------------------------------------------------------------------------------------
Fokus Kalteng :
------------------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------------
