Anggienda Soeparto Bersama Temannya. Poto Istimewa
(SUARAPUBLIC) - Warga Kabupaten Barito Uttara (Batara) patut berbangga. Seorang putri asli daerah ini berhasil meraih predikat dokter muda di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Selain menyandang predikat dokter muda, juga Indeks prestasi komulatifnya tinggi.
Anggienda Soeparto (22thn) putri kedua hasil perkawinan dari Daniel Soeparto dan Erline (Giok Ranan) dinilai berhasil meraih predikat dokter muda dan berhasil mendapat Indeks prestasi komulatif tinggi 3,20. Anggienda yang baru diwisuda pada tanggal 19 Mei lalu, juga dihadiri seorang bapak tercintanya Daniel Soeparto bersama putra sulungnya Andare.
Anggie begitu kerap disapa rekannya, menerima gelar Sarjana muda kedokteran (dokter muda) bersama teman – teman kuliah sefakultasnya mencapai 1500 orang wisudawan/wisudawati gelar dokter muda. Anggi masuk kuliah fakultas kedokteran di Universitas Gadjah Mada tahun 2006/2007 lalu, tergolong berusia muda.
Keberhasilan putri kelahiran Muara Teweh 23 Juni 1988 meraih gelar sarjana kedokteran (dokter muda), patut diberi acungan jempol, karena jeripayah orang tuanya Daniel Soeparto (50 th) yang selama ini banting tulang membiaya anak – anaknya berkuliah di kota Jogjakarta sebanyak 3 orang. (Selengkapnya....)
(JAKARTA) - Kucuran dana dari pemerintah untuk perguruan tinggi negeri ternyata masih minim. Konsekwensinya, calon mahasiswa semakin sulit masuk PTN. Jika ingin diterima di PTN, mereka harus mencoba berbagai jalur seleksi.
Dampaknya tak hanya menyulitkan calon mahasiswa masuk PTN. Lebih dari itu, mereka harus mengeluarkan biaya besar karena setiap kali mencoba jalur seleksi, calon mahasiswa harus membeli formulir pendaftaran seharga Rp 175.000 hingga Rp 800.000.
Biaya pembelian formulir ini dirasakan berat oleh calon mahasiswa yang kondisi ekonominya pas-pasan. Sebaliknya, beragamnya jalur masuk perguruan tinggi negeri (PTN) menjadi peluang bagi calon mahasiswa dengan latar belakang ekonomi menengah ke atas untuk mencoba masuk PTN.
"Harus diakui, kini calon mahasiswa dari keluarga menengah ke bawah kesulitan mendapatkan akses ke pendidikan tinggi," kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh di hadapan mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, dikutif Kompas.com, pekan lalu.
Pada dua dekade lalu, akses ke PTN terbuka luas bagi seluruh masyarakat karena hanya ada satu jalur masuk, yakni Sipenmaru (seleksi penerimaan mahasiswa baru) dan PMDK (penelusuran minat dan kemampuan) yang dikhususkan bagi calon mahasiswa berprestasi.
Sipenmaru lalu diganti menjadi UMPTN (ujian masuk perguruan tinggi negeri), tetapi tetap semua calon mahasiswa mempunyai kesempatan yang sama, hanya satu kali seleksi. Kini, setiap perguruan tinggi mempunyai empat hingga 11 jalur masuk. "Jika (persoalan akses) ini tidak segera diatasi, akan menciptakan kesenjangan yang makin luas," ujar Nuh.
APK rendah Kecilnya akses ke perguruan tinggi juga tecermin dari rendahnya angka partisipasi kasar (APK) untuk jenjang perguruan tinggi yang hanya 17,25 persen pada tahun 2007/2008. APK merupakan persentase jumlah mahasiswa dibandingkan dengan jumlah penduduk kelompok usia tersebut. Adapun untuk APK SMA sederajat pada tahun yang sama mencapai 60,51 persen.
Lulusan SMA sederajat yang melanjutkan ke perguruan tinggi pada tahun tersebut hanya 61,28 persen. Sebagian besar lulusan SMA itu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi swasta (PTS) karena jumlahnya relatif besar, yakni 2.598 PTS. Adapun PTN hanya 82. Selain jumlahnya minim, PTN pun kini semakin mempersempit peluang masuk calon mahasiswa baru melalui jalur SNMPTN (seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri), sebagai pengganti UMPTN.
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, misalnya, untuk tahun 2010 akan menerima 7.145 mahasiswa baru, tetapi untuk jalur SNMPTN hanya 11 persen. Sebanyak 4.000 calon mahasiswa baru telah diambil melalui jalur ujian tulis dan 2.179 mahasiswa diambil dari jalur penelusuran bibit unggul.
Kecilnya peluang melalui jalur SNMPTN, menurut Direktur Akademik dan Administrasi UGM Budi Prasetyo Widyobroto, karena UGM ingin meningkatkan kualitas mahasiswa. "Setelah dievaluasi, ternyata prestasi mahasiswa dari jalur ujian tulis lebih baik daripada mahasiswa yang masuk dari jalur SNMPTN," tutur Budi pada kesempatan berbeda.
Universitas Negeri Semarang, yang akan menerima 4.859 mahasiswa baru, mengalokasikan 1.345 kursi melalui jalur SNMPTN. Adapun Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, yang akan menerima 8.305 mahasiswa baru, hanya menyediakan 1.619 kursi melalui jalur SNMPTN.
"Dari tahun ke tahun, Undip selalu mengalokasikan kuota 70 persen untuk ujian mandiri. Sisanya melalui SNMPTN dan jalur prestasi," kata Ketua Ujian Mandiri Universitas Diponegoro Sutarno.
Persentase cukup besar untuk calon mahasiswa melalui jalur SNMPTN, antara lain, disediakan Universitas Jember dan sejumlah perguruan tinggi lainnya.
Universitas Jember, misalnya, tahun ini akan menerima sekitar 5.300 mahasiswa baru, sekitar 2.300 di antaranya melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).
Sekitar 1.000 mahasiswa baru lainnya diterima melalui jalur PMDK, 2.000 mahasiswa baru dari jalur lokal, dan 300 mahasiswa dari program beasiswa Bidik Misi.
"Mengapa kami harus membuka jalur ujian lokal? Ujian lokal adalah wujud tanggung jawab sosial dari Universitas Jember terhadap beberapa daerah sekitar," kata Rektor Universitas Jember Sutokto.
Kucuran dana minim Beragamnya jalur seleksi yang dilakukan perguruan tinggi tidak terlepas dari minimnya kucuran dana dari pemerintah untuk perguruan tinggi yang rata-rata hanya 15-60 persen dari kebutuhan.
Di Institut Teknologi Bandung (ITB), misalnya, dari kebutuhan sebesar Rp 700 miliar untuk tahun ini, hanya Rp 185 miliar yang diperoleh dari pemerintah.
"Dana dari pemerintah biasanya habis untuk membiayai urusan teknis, seperti gaji pegawai negeri sipil, membayar listrik, dan operasional lainnya," kata Rektor ITB Ahmaloka menjelaskan.
Dana dari mahasiswa dan alumni hanya sekitar Rp 200 miliar, sedangkan sisanya, Rp 315 miliar, justru didapat dari usaha kerja sama penelitian dan proyek ilmiah. Meskipun harus berusaha keras mencari dana sendiri, ITB menolak apabila dikatakan menetapkan biaya pendidikan yang tinggi.
Ahmaloka mengatakan, ITB tetap menyediakan tempat bagi masyarakat yang tidak mampu dengan beasiswa penuh, biaya kuliah di bawah standar Kementerian Pendidikan Nasional, dan menyediakan sekitar 1.500 kursi lewat SNMPTN. ITB dalam satu tahun memiliki setidaknya 6.000 unit beasiswa.
Namun, mahasiswa yang memanfaatkannya sekitar 4.000 orang dari total mahasiswa ITB yang 18.000 mahasiswa.
Sementara itu, Universitas Indonesia (UI), yang kebutuhan dananya sekitar Rp 1,4 triliun per tahun, hanya mendapatkan kucuran dana dari pemerintah sekitar Rp 300 miliar per tahun.
"Kekurangannya kami cari dengan berbagai cara, seperti menjalin kerja sama dengan industri serta sumbangan dari alumni," kata Rektor UI Gumilar Rusliwa Somantri.
Dengan cara itu, UI dapat mengalokasikan dana Rp 36 miliar per tahun untuk beasiswa. "UI sekolah mahal itu pandangan yang keliru. UI justru sekolah termurah. Bayangkan saja, uang kuliahnya hanya Rp 100.000 sampai Rp 7,5 juta berdasarkan kemampuan orangtua (BOP berkeadilan)," papar Gumilar.
Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan Institut Pertanian Bogor (IPB) Yonny Koesmaryono mengatakan, IPB tetap berkomitmen membantu pendidikan mahasiswa tak mampu secara ekonomi. Oleh karena itu, beasiswa Rp 5 miliar dikucurkan kepada mahasiswa setiap tahun.
Wakil Rektor Senior Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat UGM Retno Sunarminingsih Sudibyo mengatakan, untuk mengatasi kucuran dana pemerintah yang sangat terbatas, UGM banyak bekerja sama dengan pihak swasta, industri, dan sejumlah kalangan. Hasilnya, UGM bisa memberikan beasiswa kepada lebih dari 1.000 mahasiswa setiap tahun.
Berita lainnya : ------------------------------------------------------------------------------------------------
Lintas Global : ------------------------------------------------------------------------------------------------
(MEDAN): Ujian Nasional (UN) Sekolah Menengah Pertama (SMP) Karya Kesuma (Karkes) sempat terganggu. Pasalnya, bau busuk begitu menyengat dari lokasi ternak babi di kawasan Jalan Menteng, tepatnya Lingkungan 10 Binjai Medan Denai. Bahkan puluhan pelajar SMP di sekolah swasta tersebut mengunakan penutup hidung (masker) agar konsentrasi...Berita lengkapnya.....
(SUARAPUBLIC.co.cc) - Empat orang murid SMU Negeri 4 Tanjungpinang, Kepulauan Riau, dikeluarkan dari sekolah karena menghina guru melalui jejaringan sosial facebook.
Pertimbangan untuk mengeluarkan 4 orang siswa karena guru yang merasa dihina muridnya tidak bersedia memberikan maaf. Baca berita lengkapnya....
SUARAPUBLIC - Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalteng Hardy Rampay mengatakan 20.292 ruang kelas mulai dari SD, SMP dan SMA di Provinsi Kalteng mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, sedikitnya 1.737 ruang kelas dalam kondisi rusak berat.
Hardy Rampai mengatakan kepada Pers di Palangka Raya Pemprov Kalteng terus berupaya melakukan perbaikan ruang kelas yang rusak melalui alokasi dana 20 persen dari APBD Provinsi. Di tergetkan akan selesai pada akhir tahun 2011 mendatang. Berita lengkapnya...
SUARAPUBLIC - Dunia pendidikan di Indonesia sungguh sangat ironis. Seperti di Provinsi Sulawesi Selatan, masih terdapat ratusan bangunan SD rusak. Tercatat sedikitnya 226 dari 365 bangunan SD, baik negeri maupun swasta sedang dalam kondisi memprihatinkan.
Kerusakan bangunan sekolah dasar itu sebagian besar lantaran dimakan usia alias bangunan tua. Sekitar 50 persen bangunan SD yang rusak, sudah berstatus rusak parah, sehingga mengancam keselamatan anak-anak peserta dididik. Berita lengkapnya....